Laporan Praktikum Fermentasi Jerami Padi

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.        Latar Belakang

Hijauan adalah sumber pakan penting yang harus selalu tersedia dalam jumlah cukup dan berkualitas guna meningkatkan produksi ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Yang umum diberikan untuk ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang, serta pinggiran jalan.  Walau demikian, masih ada sumber pakan ternak yang belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu limbah produksi padi berupa jerami.  Ketersediaan jerami padi cukup melimpah, namun pemanfaatannya untuk pakan ternak belum banyak dilakukan di Indonesia. Jerami yang tersedia umumnya tidak dalam keadaan baik untuk digunakan sebagai pakan ternak, karena busuk dan basah terendam air sawah atau hujan.

Kandungan Gizi Jerami padi merupakan hasil ikutan pertanian terbesar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta ton per tahun. Produksinya per hektare sawah padi bisa mencapai 12-15 ton, atau 4-5 ton bahan kering setiap kali panen, tergantung lokasi dan varietas tanaman.

Sejauh ini, pemanfaatan jerami padi sebagai pakan baru mencapai 31-39 %, sedangkan yang dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai pupuk 36-62 %, dan sekitar 7-16 % digunakan untuk keperluan industri.

Oleh karena itu, jerami padi mempunyai potensi yang sangat baik untuk dimanfaatkan menjadi makanan ternak ruminansia agar dapat meningkatkan produktivitasnya, sehingga swasembada daging dapat tercapai. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak kerap dilakukan di daerah tropik, terutama pada musim kemarau.

Tapi penggunaannya itu mengalami kendala berupa nilai nutrisi yang rendah. Mulai dari kandungan nitrogen, kalsium, hingga fosfor. Sebaliknya, kandungan serat kasar (lignin, selulosa, dan silica) justru tinggi, sehingga mengakibatkan daya cerna rendah dan konsumsinya menjadi terbatas.

Kandungan gizi jerami padi terdiri atas protein kasar 4,5 %, serat kasar 35 %, lemak kasar 1,55 %, abu 16,5 %, kalsium 0,19 %, fosfor 0,1 %, energi TDN (Total Digestible Nutrients) 43 %, energi DE (Digestible Energy) 1,9 kkal/kg, dan lignin yang sangat tinggi.

Jika jerami padi langsung diberikan kepada ternak, maka daya cernanya rendah dan proses pencernaannya lambat, sehingga total yang dimakan per satuan waktunya menjadi sedikit.

Produksi jerami padi bervariasi yaitu dapat mencapai 12-15 ton jerami segar per ha satu kali panen, atau 4-5 ton jerami kering per ha tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman yang digunakan.

Oleh karena itu jerami padi sangat penting artinya untuk dimanfaatkan menjadi makanan ternak ruminansia khusususnya sapi potong, kambing dan domba. Hanya saja jerami padi mutunya rendah , dimana jerami padi mengandung serat kasar dan silikat yang tinggi sedangkan kadar protein dan daya cernanya rendah.

Untuk meningkatkan mutu jerami padi. perlu dilakukan proses fermentasi dengan menggunakan urea dan probiotik. Probiotik adalah campuran berbagai mikro organisme yang berguna untuk mempercepat proses pemecahan serat jerami padi, sehingga mudah dicerna oleh ternak.

 

1.2.        Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan praktikum ini adalah :

-       Mahasiswa dapat memanfaatan hasil limbah pertanian seperti jerami padi untuk proses fermentasi sebagai pakan ternak yang benilai gizi tinggi.

-       Mahasisa dapat membuat fermentasi jerami padi.

-       Mahasiswa dapat mengaplikasikan hasil pembuatan fermentasi jerami padi pada ternak sapi.

 

BAB II

MATERI DAN METODE

 

2.1.   Materi

Praktikum Pembuatan Fermentasi Jerami Padi dengan materi tekhnik Pembuatan Fermentasi Jerami Padi dengan Tetes dilaksanakan pada hari Selasa, 24 Juli 2012 pukul 11.00–12.00 WIB di Laboratorium  Nutrisi dan Makanan Ternak STPP Malang. 

Alat yang digunakan pada Praktikum Tekhnik Pembuatan Fermentasi Jerami Padi adalah :

  1. Timbangan untuk menimbang jerami padi
  2. Ember untuk mencampur molasses, superphosphate, ammonium sulfat dengan air
  3. Sabit/Parang untuk mencacah/memotong jerami padi
  4. Papan untuk tempat mencacah/memotong  jerami padi
  5. Kantung plastic untuk menyimpan jerami padi yang sudah dicacah/dipotong dan disirami dengan campuran molasses, superphosphate, ammonium sulfat dan air
  6. Tali raffia untuk menutup/mengingat kantung plastic yang telah diisi dengan jerami padi yang siap difermentasikan

Bahan yang digunakan pada Praktikum Tekhnik Pembuatan Fermentasi Jerami Padi adalah :

  1. Jerami padi sebanyak 5 Kg
  2. Tetes/molasses sebanyak 0,75 liter
  3. Air bersih sebanyak 1, 5 liter
  4. Superphospat 1 sendok the
  5. Amonium Sulfat 10 gram

 

2.2.   Metode

2.1. Tahap persiapan

1. Masing-masing kelompok mahasiswa menyiapkan alat dan bahan yang

    diperlukan

2. Siapkan alat dan bahan sesuai ukuran seperti di atas

3. Lakukan pembuatan fermentasi jerami sesuai prosedur pembuatan

2.2. Tahap Pelaksanaan

  1. Timbang jerami padi sesuai dengan jumlah yang diperlukan (untuk masing-masing kelompok 5 Kg)
  2. Jerami dipotong-potong dengan ukuran kurang lebih 5 – 10 cm
  3. Larutkan tetes sebanyak 0,75 liter dengan air sebanyak 1,5 liter. Aduk sampai homogen dan ditambahkan 1 sendok the superphospat dan 10 gram ammonium sulfat aduk sampai merata
  4. Jerami yang telah dipotong-potong dengan ukuran kurang lebih  5 – 10 cm, disirami dengan larutan tetes+superphospat+ammonium sulfat+air dengan cara memercik ke seluruh bagian jerami padi sampai merata.
  5. Masukan jerami padi yang telah tercampur dengan larutan tersebut ke dalam kantung plastic yang telah disediakan, dan diikat.
  6. Ikat kantung plastic dengan kuat secara rapat dan disimpan selama 24 jam (sehari semalam)
  7. Setelah penyimpanan 24 jam (sehari semalam), ikatan plastic dapat dibuka dan jerami padi hasil fermentasi dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia.
  8. Sebelum diberikan kepada ternak, jerami harus diangin-anginkan selama kurang lebih 30 menit

 

2.3. Tahap Aplikasi Pada ternak

- Koordinasi dengan instalasi ternak besar

- Ternak yang digunakan adalah sapi potong

- Amati Palatabilitas dari amoniasi jerami padi yang diberikan

2.4. Tahap Evaluasi

Evaluasi kegiatan terdiri dari :

-       Tahap persiapan

-       Pelaksanaan dan kerjasama dalam kelompok

-       Tahap aplikasi pada ternak

-       Membuat laporan kegiatan

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1.        Pengolahan Jerami Padi dengan cara Fermentasi

Fermentasi merupakan suatu cara pengolahan jerami padi secara bilogis dengan menggunakan probiotik. Probiotik merupakan produk bioteknologi yang mengandung polimikroorganisme, lignolitik, proteolitik, amilolitik, sellulolitik, lipolitik dan nitrogen non simbiotik yang dapal memfermentasi jerami sehingga dapat meningkatkan kualitas dan nilai kecernaannya. Dalam praktikum ini bahan probiotik yang digunakan adalah tetes, superphospat dan ammonium sulfat.

3.2.        Manfaat Fermentasi

  1. Merubah tekstur dan warna jerami yang semula keras berubah menjadi lunak dan rapuh
  2. Warna berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat tua
  3. Meningkatkan kadar protein, serat kasar, energi bruto (GE), tetapi menurunkan kadar bahan ekstrak tiada nitrogen (BETN) dan dinding sel
  4. Meningkatkan bahan kering, bahan organik, dinding sel, nutrien tercerna total, energi tercerna, dan konsumsi bahan kering jerami padi
  5. NH3 cairan rumen meningkat
  6. Memberikan balan nitrogen yang positif
  7. Menghambat pertumbuhan jamur
  8. Memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami.

3.3.        Hasil Fermentasi

Dari hasil praktikum yang diperoleh setelah proses fermentasi (24 jam) maka sesuai pengamatan diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Warna kuning tua/cokelat
  2. Bau fermentasi
  3. Tekstur jerami relatif lebih mudah putus,

 

3.4.        Aplikasi Pada Ternak

Setelah diamati hasil praktikum, maka langkah selanjutnya adalah pemberian jerami padi hasil fermentasi pada ternak sapi potong. Dimana langkah awalnya adalah diangin-anginkan selama 30 menit dengan maksud agar mengurangi gas fermentasi yang tinggi yang masih terkandung dalam pakan.

Dari hasil pengamatan ternak sapi potong yang diberikan makan jerami hasil fermentasi padi ini belum begitu suka, tetapi tetap diupayakan agar pemberian harus dibiasakan sedikit demi sedikit, misalnya 10% dari pakan yg biasa dipakai dan selanjutnya tersus ditingkatkan jumlahnya agar ternaknya terbiasa.

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1.   KESIMPULAN

  1. Untuk mengatasi permasalahan lingkungan akibat limbah hasil pertanian seperti jerami padi maka solusi yang dapat ditempuh adalah memanfaatkan jerami padi kering untuk dijadikan pakan alternatif dengan cara Fermentasi.
  2. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak dapat dilakukan di daerah tropik, terutama pada musim kemarau untuk mengatasi masalah kekurangan pakan ternak.
  3. Jerami yang telah difermentasi memiliki nilai energi yang lebih besar dibandingkan jerami yang tidak fermentasi. Sebab kandungan senyawa karbohidrat yang sederhana menjadi lebih besar.

 

4.2.        Saran

Untuk meningkatkan nilai tambah dari jerami padi/sisa hasil pertanian dan untuk mengatasi kekurangan pakan pada musim kemarau maka solusi yang tepat adalah memanfaatkan hasil sisa pertanian itu sebagai pakan alternative dengan cara fermentasi jerami. Solusi ini tentunya akan dapat meningkatkan produktivitas  ternak. Dengan demikian maka program pemerintah dalam mewujudkan swasembada daging dapat tercapai.

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s